Benci Setengah Mati

Kita sering kesal kepada orang lain, merasa iri lah, menganggap orang sombong, norak, banyak pamer, tidak cerdas, rese, dan lain-lain.

Capek nyebelin orang lain. Andai kita bisa lebih berpikir terbuka. Bukankah karakter orang itu tidak terbangun begitu saja seperti apa yang kita lihat pada orang yang sudah kita sebelin itu?

Bukankah, karakter orang itu terbentuk dari banyak faktor dari mulai faktor turunan, sifat bawaan, mungkin juga stimulus saat ibunya mengandung, do’a orang tuanya saat mau berhubungan, azan yang dibisikkan saat baru dilahirkan, pola asuh orang tuanya, lingkungan, latar belakang pendidikannya, latar belakang pendidikan orang tuanya dan sebagainya. Pokoknya terlalu banyak faktor pembentuk karakter seseorang.

Adilkah jika kita menghormati seseorang karena karakternya, yang sebenarnya memang ia tergolong beruntung karena terlahir dalam posisi memperoleh segala pendukung karakter baiknya.

Di satu sisi kita membenci seseorang setengah mati padahal orang yang kita benci itu ditakdirkan tumbuh dalam lingkungan yang minim pendidikan karakter. Semua yang ia pelajari adalah atas pertolongan Allah melalui usahanya sendiri. Yang tentunya mungkin akan berbeda dengan mereka yang tumbuh dalam lingkungan dengan faktor pendukung karakter yang lengkap.

Maka dalam bersikap mengapa kita tak menghormati seorang secukupnya dan membenci seseorang sedikit saja. Syukur-syukur kita bisa seperti para pendakwah.

Para pendakwah adalah golongan yang sangat peduli pada karakter kita, meskipun mereka tak kenal kita. Yang menginginkan kita jadi orang baik apapun latar belakang kita. Mereka yang bukan saudara kandung, bukan family tapi peduli. Ayo kita mulai mendengarkan setiap tutur katanya.

Sumber : https://www.islampos.com/benci-setengah-mati-3-92568/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *