Ini Cara Taaruf yang Syar’i

Jika pacaran logikanya merupakan cara yang keliru dalam memulai sebuah hubungan, maka taaruf adalah kebalikannya. Taaruf adalah cara yang benar untuk memulai sebuah hubungan serius yang tentu mengarah pada pernikahan. Dengan taaruf menjadikan cara kita dalam mencari jodoh jauh dari kubangan dosa dan tentu saja, diridhai Allah SWT.

Karena memang ditujukan untuk menikah maka ta’aruf harus beda dengan pacaran. Secara sederhana, aktivitas yang dilakukan oleh mereka yang sedang ta’aruf terkelompokkan menjadi dua aktivitas besar; Obrolan dan Pertemuan. Saya mencoba mengklasifikasikan aktivitas apa aja yang boleh dan tidak boleh selama ta’aruf, biar tidak tertukar dengan pacaran.

Pertama, Obrolan. Selama masa ta’aruf obrolannya fokus pada persoalan pencaritahuan tentang data diri calon pasangan kita, sekaligus pengungkapan diri dari kita sendiri. Pembicaraan dalam ta’aruf isinya lebih bersifat realistis, apa adanya, tidak dikurangin, tidak juga ditambahin. Tema pembicaranya lebih bersifat realistis, bukan berhayal, berandai-andai, apalagi ditambahi janji manis bin menggombal. “Ukhti, jika nanti kau jad isteriku, akan aku jadikan kau ratu dalam istanaku” Tidak, tidak seperti itu. Yang seperti itu cuma ada di dunia pacaran.

Berikutnya, setelah pencaritahuan dan pengungkapan, kalau keduanya merasa cocok, pembicaraan bisa dilanjutkan untuk ngobrol masalah “what’s next?”, bisa bicara tentang visi, misi hidup dan berkeluarga nantinya seperti apa, mungkin juga ngobrol soal penghasilan keluarga, rumah atau tempat tinggal, dan sebagainya. Kalo sudah ngobrol seserius itu, tapi kamu merasa tidak cocok, bisa saja salah satu di antara kamu tidak meneruskan proses ta’aruf. Sebisa mungkin, ungkapkan apa yang dirasa tidak sreg, yang membuat kamu mundur dari proses ta’aruf tersebut, biar tidak terjadi ganjalan atau mis persepsi diantara keduanya.

Selama ngobrol, selain “isi” obrolan yang harus diperhatikan juga masalah “intensitas” alias sering tidaknya ngobrol. Ini sebenarnya persoalan pengendalian naluri (gharizah nau) saja, kalau kita merasa orang yang lemah pengendalian gharizah-nya, maka intensitas ngobrol harus benar-benar diperhatikan. Apalagi kalau rentang waktu antara ta’aruf sampai nikah cukup lama sementara komunikasinya intens banget. Misalnya rentang waktunya 1 tahun, sementara intensitas ngobrolnya tiap hari, nah yang seperti ini khawatirnya timbul masalah pengendalian naluri. Kalo tidak waspada, ditambah iman lagi kendor-kendornya, maka hawa nafsu akhirnya menguasai kita, dan setan sudah jadi saudara kerabat kita. Naudzubillah min dzalik.

Apalagi media ngobrol sekarang cukup beragam, kalau keduanya gaul dengan dunia maya, maka tidak ketinggalan dengan yang namanya, twiter, facebook, whatsapp dan sejenisnya. Apalagi aplikasi semacam itu, bisa diakses dengan media yang portable alias bisa dibawa kemana-mana, dengan yang namanya handphone atawa BB. Kalo sudah seperti itu, maka bisa jadi intensitas ngobrol jadi lebih sering, biasanya cuman seminggu sekali, berubah jadi tiap hari. Khawatirnya, apa yang di obrolkan jadi macam-macam dan kemana-mana, yang tidak ada kaitanya dengan ta’aruf pun, bisa jadi ikut diobrolkan, sehingga bisa mengarah ke becandaan, ke guyonan, dan seterusnya.

Kedua, Pertemuan. Interaksi yang dilakukan antara mereka yang sedang ta’aruf benar-benar dilakukan sebagai pertemuan yang dalam skala prioritas penting sekali. Jadi hindari bertemu, apalagi terlalu sering bertemu untuk sesuatu yang “kurang penting”, dan bahkan “tidak penting”. Kalau memang mau melakukan pertemuan, karena itu dianggap pertemuan yang prioritasnya “paling penting”, misalnya karena baru awal ta’aruf ingin mengenal keluarga, atau pengin ketemu keluarga, maka seperti itu boleh bertemu. Tapi jangan sekali-kali berfikir untuk menaikkan derajat dari “kurang penting” atau “nggak penting” menjadi “sangat penting”, kalau seperti itu dilakukan maka akan terjadi “toleransi” kesalahan bahkan kemaksiatan. Misalnya kamu menggangap makan siang bareng apalagi hanya berdua adalah penting, belanja di mall berdua itu penting, maka yang seperti itu merupakan pelanggaran yang sudah kamu anggap kebiasaan, maka ya jadinya biasa bermaksiat.

Kalau pun memang harus membicarakan hal yang rinci dan detail, bisa aja dilakukan pertemuan, jika disepakati oleh kedua belah pihak dan ada batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Bahkan diperkenankan untuk “melihat” calon kita, kalau memang itu bisa membuat kita yakin terhadap pilihan kita. Tapi kalau kamu merasa tanpa harus “melihat” yang lebih detail, kamu udah yakin, ya boleh-boleh saja.

Penting juga, seperti yang sudah diwanti-wanti oleh Rasulullah Saw, jadi selain pertemuan itu memang penting, juga bahwasanya pertemuan itu harus tidak boleh dilakukan berdua saja. Si akhwat harus disertai mahram-nya, bisa bapak, kakak, paman dari bapak dan seterusnya. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, nge-date dan seterusnya dengan menggunakan alasan taaruf.

Sama juga dengan ngobrol maka pertemuan juga harus dijaga intensitas ketemuannya. Jangan mudah terlena menggunakan kesempitan sebagai kesempatan, atau memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Misalnya, pas kamu dengan si dia kebetulan jadi ketua dan sekretaris panitia kegiatan, kamu manfaatkan kesempatan sebagai sarana untuk bisa intens ketemu, ngobrol, becanda, dengan alasan yang logis tapi ini sebenarnya bisa jadi jalan iblis sms pun meluncur “maaf ukhti, bisakah kita besok kita bertemu berdua saja di mushola kampus, untuk membicarakan schedule acara besok”. Nah yang seperti ini, berbahaya.

Source : http://civilita.com/ini-cara-taaruf-yang-syari/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *