Pentingnya Mengerti Tentang Alasan Hukum Syariah

Dalam manhaj assalafus-sholih tidak dibenarkan sikap “Taqlid buta” yaitu mengikuti pendapat tanpa peduli benar ataupun salah, kecuali dalam keadaan terpaksa atau terdesak oleh situasi dan kondisi.

Namun keterpaksaanpun dibatasi oleh kewajiban untuk menuntut ilmu dan haram hukumnya seseorang bertahan dalam kebodohan, terutama dalam hal amalan yang telah menjadi kewajiban dirinya.

Adapun sikap yang dibenarkan adalah “Ittiba’” yaitu mengikuti ilmu pada setiap amalan, baik dalam hal aqidah, ibadah, muamalah dan lain-lainnya, sehingga setiap amalan tersebut telah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Maka ilmu harus dipegangi sebelum seorang muslim berkata ataupun berbuat, sehingga semua perkataan dan perbuatannya bersandar kepada kebenaran, dan tidak serampangan dalam menilai sesuatu sebagai kebaikan, kebenaran dan manfaat tanpa mempedulikan kaidah-kaidah ilmu.

Terlebih lagi dalam hal berfatwa dan berijtihad, tentunya harus bersandar kepada ketentuan dan standar yang benar, sehingga bisa diuji kebenarannya secara ilmiah.

Hal ini sesuai dengan ungkapan para ulama assalafus-sholih:
“الحق لا يعرف بالرجال ، اعرف الحق تعرف أهله”.
“Kebenaran tidaklah dikenali karena orang-orang tertentu, kenalilah kebenaran maka engkau akan tahu siapa pemeluk kebenaran itu”.

Oleh karena itu adalah kewajiban atas penuntut ilmu untuk memiliki kemampuan dalam mengenali ilmu, sehingga terhindar dari taqlid buta yang akan menjerumuskannya kepada fanatisme kepada orang tertentu dan berikutnya mudah bersikap ghuluw dalam menghormatinya.

Diantara hal penting untuk dimengerti oleh para penuntut ilmu adalah pentingnya mengerti tentang alasan hukum yang diistilahkan dengan “العلة” (Al-illah) yang biasa disebut “Ilat hukum”.

Definisi atau pengertian dari “Ilat hukum” adalah : “Suatu alasan yang jelas dan mantap yang terbina diatasnya hukum dan terikat dengannya, baik saat adanya maupun tidak adanya”.

Dalam hal ini para ulama juga menerbitkan kaidah yang menjadi pegangan bagi siapapun yang akan berfatwa ataupun berijtihad, yaitu :
“الحكم يدور مع علته وجودا وعدما”.
“Hukum itu selalu beredar bersama ilatnya, baik saat adanya ataupun tidak adanya”.

Setiap hukum dalam syariat Islam selalu memiliki ilat (alasan hukum), karena hukum dengan ilatnya selalu beriringan, ada bersama-sama dan tidak adapun bersama-sama, sebagaimana dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

Untuk itu setiap fatwa dan ijtihad dari ulama – siapapun orangnya – akan selalu berupa hukum yang jelas ilatnya, sehingga penuntut ilmu bisa mengukur kekuatan hukum tersebut dengan memperhatikan kekuatan ilatnya, bukan dengan melihat orang yang berfatwa dan berijtihad.

Disaat hukum yang dihasilkannya tidak memiliki ilat yang jelas dan mantap, atau memiliki ilat namun tidak sesuai dengan syariat islam, ataupun bertentangan dengan hukum yang sandarannya lebih kuat, tentunya fatwa dan ijtihad itu patut ditolak.

Oleh karena itu fatwa dan ijtihad dari siapapun tidaklah maksum, tetap saja memiliki kemungkinan salah, sehingga tidaklah benar jika ada orang memaksa orang lainnya kepada fatwa dan ijtihad orang tertentu, bahkan menamakannya “manhaj salafy”, sehingga orang yang berbeda dengannya divonis keluar dari “manhaj salafy”.

Tidak benar pula seseorang berpegang kepada fatwa dan ijtihad ulama tertentu seperti berpegang kepada firman Alloh, hadits RosulNYa dan Ijma para Ulama yang mutlak kebenarannya.

PERBEDAAN ANTARA ILAT DENGAN SEBAB :
– Ilat itu adalah alasan hukum yang bisa dipahami dengan akal fikiran, misalnya : “memabukkan” sebagai ilat untuk haramnya khomer (arak) yang bisa juga dinamai sebab hukum.
– Namun banyak dari sebab-sebab hukum yang tidak bisa dipahami dengan akal fikiran manusia, misalnya : terbenamnya matahari adalah sebab diwajibkannya sholat maghrib, mengapa harus terbenamnya matahari ?, begitupula waktu sholat yang lain adalah sebab wajibnya sholat yang juga tidak bisa dimengerti mengapa menjadi sebab hukum?.
– Para Ulama mengatakan : “Setiap ilat itu adalah sebab, namun tidak setiap sebab adalah ilat”.

PERBEDAAN ANTARA ILAT DENGAN HIKMAH :
– Ilat selalu berupa alasan hukum yang jelas dan mantap yang siap menjadi cantolan hikmah yang dengannya terpahami hikmah, mengapa disyariatkannya sebuah hukum?
– Namun hikmah adalah maksud dan tujuan mengapa disyariatkannya sebuah hukum?
– Misalnya : hukum qishosh karena pembunuhan terhadap seseorang, maka si pembunuh harus dibunuh pula.
– Ilatnya hukum qishosh tersebut adalah “pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja”.
– Hikmahnya adalah : “terlindunginya jiwa manusia”.
– Misal lainnya : dibolehkannya berbuka puasa bagi musafir dan orang sakit.
– Ilat hukumnya adalah : “safar” dan “sakit”.
– Hikmahnya adalah : “terangkatnya kesulitan dan pembebanan yang memberatkan”.

Faidah dari memahami ilat hukum diantaranya :
1. Penjelasan tentang hikmah yang Alloh curahkan pada pelaksanaan hukum yang disyariatkanNya.
2. Kita jadi bisa mengerti alasan-alasan dan maksud-tujuan mengapa suatu hukum disyariatkan.
3. Memperkuat keyakinan kepada kebenaran syariat Islam, karena jelasnya alasan hukum dan hikmah.
4. Tegaknya hujjah (bukti kebenaran) dihadapan penentang syariat Islam.
5. Menambah ketenangan jiwa bagi orang yang beriman kepada kebenaran syariat Islam.

Diantara pelajaran penting terkait dengan masalah fatwa dan ijtihad para Ulama zaman ini dalam menghukumi masalah-masalah mutaakhir, bahwa taqlid buta dan ghuluw terhadap ulama adalah suatu hal yang tidak bisa dibenarkan.

Termasuk didalamnya sikap sebahagian orang yang menganggap fatwa dan ijtihad ulama tertentu adalah kebenaran mutlak dan selalu cocok dan sesuai dengan setiap waktu, tempat, situasi dan kondisi yang manapun.

Sementara perkembangan situasi dan kondisi pada saat ini menuntut para ulama Ahlussunnah wal- jamaah untuk segera memberikan solusi dan terobosan yang sesuai dengan manhaj salafy, dihadapan fitnah-fitnah yang terus-menerus merobek-robek kehormatan muslimin dan menumpahkan darah mereka tanpa hak.

Sumber : https://gemaislam.com/3432-pentingnya-mengerti-alasan-hukum-syariah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *