PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ: RASULULLAH DI SIDRATUL MUNTAHA

Sidratul Muntaha adalah sebuah pohon besar yang berada di langit ketujuh. Ia adalah pemisah. Disebut muntaha (akhir) karena ia merupakan batas akhir dari sebuah perjalanan. Tidak ada satu makhluk pun yang pernah melewatinya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Pohon Sidr adalah Pohon Bidara.

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan,

سُمِّيَتْ سِدْرَةَ الْمُنْتَهَى لأَنَّ عِلْمَ الْمَلاَئِكَةِ يَنْتَهِي إِلَيْهَا، وَلَمْ يُجَاوِزْهَا أَحَدٌ إِلاَّ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم

“Dinamakan Sidratul Muntaha karena pengetahuan malaikat (tentang jarak perjalanan) berakhir padanya. Tidak ada satu makhluk pun yang pernah melewatinya kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (an-Nawawi, al-Minhaj 2/214).

Kunjungan ke Sidratul Muntaha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ رُفِعَتْ إِلَيَّ سِدْرَةُ المُنْتَهَى، فَإِذَا نَبْقُهَا مِثْلُ قِلاَلِ هَجَرَ، وَإِذَا وَرَقُهَا مِثْلُ آذَانِ الفِيَلَةِ، قَالَ: هَذِهِ سِدْرَةُ المُنْتَهَى

“Kemudian ditunjukkan padaku Sidratul Muntaha. Kulihat buahnya seperti guci-guci orang Hajar (nama tempat di Yaman) dan daunnya seperti telinga gajah. Jibril berkata, “Ini adalah Sidratul Muntaha.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Fadhail ash-Shahabah, 3674).

Dalam riwayat lain, beliau bersabda tentang Sidratul Muntaha,

فَلَمَّا غَشِيَهَا مِنْ أَمْرِ اللهِ مَا غَشِيَ تَغَيَّرَتْ، فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا

“Tatkala perintah Allah meliputinya, ia pun berubah. Tak ada satu makhluk pun yang mampu menggambarkan keindahannya.” (HR. Muslim dalam Kitabul Iman, 162).

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata,

“لَمَّا أُسْرِيَ بِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، انْتُهِيَ بِهِ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى، وَهِيَ فِي السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، إِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا يُعْرَجُ بِهِ مِنَ الأَرْضِ فَيُقْبَضُ مِنْهَا، وَإِلَيْهَا يَنْتَهِي مَا يُهْبَطُ بِهِ مِنْ فَوْقِهَا فَيُقْبَضُ مِنْهَا”، قَالَ: {إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى} [النجم: 16]، قَالَ: “فَرَاشٌ مِنْ ذَهَبٍ”

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diisra’kan, beliau dihentikan di Sidrah al-Muntaha, yang terletak di langit keenam. Sesuatu yang naik dari bumi akan bermuara di sana dan ditahan di sana. Dan sesuatu dari atasnya berhenti padanya, lalu ditahan di tempat tersebut. Allah berfirman: ‘(Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya).’ (QS. An Najm: 16). Abdullah berkata lagi, “Yaitu hamparan dari emas.” (HR. Muslim dalam Kitabul Iman, 173).

Besarnya pohon ini, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah. Dan pohon ini benar-benar ada di langit ketujuh dalam sejumlah riwayat. Kecuali riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang menyebutnya berada di langit keenam. Tapi, bisa juga tafsinya adalah bahwa akar pohon ini berada di langit keenam. Dan pohonnya yang besar berada di langit ketujuh. Maha Suci Allah yang berkuasa atas segala sesuatu.

Para ulama berijtihad, merenungkan hikmah mengapa yang terdapat di langit itu Pohon Sidr, bukan pohon jenis yang lain. Sebagian dari mereka berpendapat, karena buahnya lezat. Naungannya luas. Dan bentuknya bagus. Namun, makna hakikinya hanya Allah saja yang tahu. Terlalu menyelami perenungan ini bisa jadi membebankan diri kita saja. Yang jelas kita imani saja keadaannya sebagaimana yang dikabarkan kepada kita.

Bentuk Sidratul Muntaha

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupaya sekemampuan beliau untuk mengabarkan bentuk pohon ini kepada kita. Beliau beri permisalan agar dekat dengan pemahaman. Beliau sebut buahnya seperti guci-guci orang Hajar. Hajar adalah sebuah tempat yang diketahui oleh para sahabat. Sebuah tempat yang terkenal sebagai penghasil guci kala itu. Para ulama beda pendapat tentang domisili orang-orang Hajar ini. Ada yang mengatakan sebuah desa dekat Kota Madinah. Ada pula yang mengatakan sebuah tempat di Yaman. Dan yang lain menyebutnya berada di bagian timur Jazirah Arab. Yang sekarang kita kenal dengan wilayah Bahrain.

Bisa jadi buahnya sama dengan buah Pohon Bidara di dunia ini. Karena Allah Ta’ala berfirman tentang buah-buahan akhirat.

كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا

“Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa.” [Quran 2:25]

Selain mengabarkan tentang buahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan tentang bentuk dedaunannya. Kata beliau daun-daunnya seperti telinga gajah. Keindahan pohon ini tergambarkan dalam riwayat Abdullah bin Mas’ud. Ketika beliau menyebut pohon ini diliputi oleh hamparan emas.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tutup penjelasan beliau tentang pohon ini dengan sabdanya,

فَمَا أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ يَسْتَطِيعُ أَنْ يَنْعَتَهَا مِنْ حُسْنِهَا

“Tak ada satu makhluk pun yang mampu menggambarkan keindahannya.”

Beliau mempertegas bahwa sifat-sifat pohon yang disampaikan kepada kita hanyalah untuk mendekatkan pemahaman. Bukan benar-benar bentuk aslinya.

Source : Http://kisahmuslim.com/6058-peristiwa-isra-miraj-rasulullah-di-sidratul-muntaha.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *