Rendah Hati, Kenapa Tidak?

Kita sudah sering mendengar peribahasa yang mengatakan bahwa di atas langit masih ada langit yang diartikan bahwa setinggi apapun seseorang memiliki ilmu, masih ada lagi orang lain yang ilmunya jauh lebih tinggi lagi.

وَفَوْقَ كُلِّ ذِى عِلْمٍ عَلِيمٌ…

“… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (QS. Yusuf ayat 76)

Saat ini, pemahaman kita terhadap suatu hal mungkin sedang berada di atas dibanding lainnya. Namun, esok lusa siapa dapat menjamin? Bisa jadi orang yang kita anggap sebelah mata hari ini, di kemudian hari ia berada di atas kita. Sejak masa konsepsi (pembuahan) manusia itu hidup dengan berlomba-lomba, dan sebagai seorang muslim/muslimah kita diperintahkan Allah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (Lihat: QS. Al-Baqarah ayat 148).

Jadi, wajar saja bilamana ada adik kelas kita yang lebih ahli di suatu bidang, padahal justru kita lebih dulu yang menggeluti bidang tersebut. Ilmu seseorang itu bisa dikejar dengan membaca ini-itu, lantas kemudian berguru untuk mendapat pemahaman yang baik. Namun, bila soal pengalaman? Setiap orang memiliki lika-liku hidup yang berbeda-beda, sangat sulit untuk bisa setara.

Maka dari itu, sudah seharusnya kita memiliki sifat rendah hati sebagaimana padi ‘semakin berisi semakin merunduk’ pun selalu ingat bahwa ada lagi Yang Maha Mengetahui. Allah bisa dengan mudahnya memberikan dan mengambil kepintaran seseorang. Berendah hatilah. Pun semoga kita senantiasa menjadi orang yang memiliki kebermanfaatan bagi sesama. In Syaa Allah ilmu itu akan bertambah bila diamalkan, tidak akan terputus sekalipun kita sendiri sudah tak bernapas.

Source : https://www.islampos.com/rendah-hati-kenapa-tidak-80759/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *