Ubaidullah Latif, Mujahid Santun dan Penuh Kecintaan Kepada Allah

Seperti apakah kejadiannya ketika anda telah merasakan sebuah cinta? Tentu yang dirasakan adalah kerinduan, semangat, dan hal lainnya yang bercampur menjadi satu. Dan tentu saja orang yang sudah jatuh cinta akan memberikan segalanya untuk orang yang ia cintai. Tetapi cinta akan jadi sebuah jalan menuju kecelakaan manakala diarahkan pada hal tercela.

Mujahid satu ini adalah salah satu contohnya. Ia jatuh cinta pada agama Allah, karena kecintaanya itulah kehidupannya hanya ia gunakan untuk memperjuangkan kemuliaan Islam dan muslimin. Ia lebih suka bergumul dengan debu-debu perjuangan di medan jihad daripada bersandar di dipan-dipan penuh kenyamanan. Ia lebih bahagia bermalam di dalam parit pertahanan sembari memeluk senjata daripada di rumah dengan segala kehangatannya.

Gaya bicaranya santun, senyuman selalu terkembang di bibirnya dan suka mengingatkan akan kebaikan. Maka, ketika mujahid santun ini syahid, banyak rekan-rekannya yang merasa kehilangan karena kenangan-kenangan manis bersamanya.

Mujahid Asli Afghan

Namanya Asy-Syahid Ubaidillah Latif bin Muhammadallah. Terlahir di lingkungan yang islami di daerah Dag Carmol, distrik Kunar pada tahun 1393 H. Kesyahidan menjemputnya ketika ia berumur 45 tahun tepatnya pada 4 Agustus 2014.

Jenjang pendidikan dasar ia selesaikan di daerah setempat. Setelah itu ia hijrah ke Pakistan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Di Pakistan ia juga sempat mempelajari bahasa Inggris dan menguasainya.

Setelah Latif menyelesaikan studi, ia segera terbang menuju tanah air dan bergabung dengan mujahidin untuk melawan Soviet. Ia berangkat ke medan perang bersama pamannya, Asy-Syahid Doktor Nammatillah. Pada akhirnya, keluarga besar Latif terpaksa pindah karena konfrontasi dengan Soviet makin meluas di wilayah Afghanistan. Mereka bertahan di area perbatasan dengan negara Pakistan.

Dalam proses perpindahan itu, empat anggota keluarganya menjemput syahid karena gempuran dari Soviet. Latif kehilangan saudara-saudara perempuan dan kakeknya. Emirat Islam jatuh, Amerika mulai ikut campur dengan urusan dalam negeri Afghanistan. Ubaidillah Latif sebagai anak muda yang enerjik pun tidak tinggal diam. Melihat kerusakan yang terjadi memantapkan hatinya untuk berangkat ke medan perang.

Aksinya mengundang decak kagum ketika ikut serta dalam konfrontasi di Doraa, distrik Bigrah. Latif juga berkontribusi cukup besar pada pertempuran di Afghanistan Utara dan menjadi komandan di garis depan di daerah Bamyan. Ia juga diangkat sebagai komandan bagian keamanan di Direktorat Ghazi Abad.

Latif juga dikenal sebagai ahli bom dan ranjau. Sudah banyak tank Amerika meledak karena terkena bom yang ditanamnya di tanah. Sebagaimana mujahid-mujahid yang lainnya, Latif pun juga pernah merasakan dinginnya dinding penjara selama 19 bulan. Tentu sudah menjadi rahasia umum bagaimana perihnya siksaan dan intimidasi di penjara. Beratnya siksaan dan hambatan justru membuat Latif semakin sadar bahwa perjuangan ini adalah jalan yang benar. Maka, qadarullah setelah ia terbebas dari penjara, semangat berjihadnya tidaklah luntur. Justru semakin kuat dan tekad inilah yang mengantarkan seorang Latif menuju kesyahidan. Masya Allah…

Akhir yang Bahagia

Akhirnya, mujahid asli Afghan ini menuai apa yang dicintainya. Memperjuangkan dienullah dan gugur menjadi syahid hingga titik darah penghabisan. Tepat 7 hari setelah Iedul Fitri 2014 M, Latif terlibat sebuah pertempuran dan terkepung oleh musuh. Karena kekuatan yang tidak seimbang, para mujahid terdesak dan gugur menjadi syahid termasuk Ubaidillah Latif. Kecintaan Latif pada Islam mengantarkannya pada kemuliaan di akhirat.

Itulah sebuah rasa yang tidak bisa ditemukan di dalam perjuangan manapun. Sebuah kecintaan yang begitu mendalam disertai akan adanya harapan hidup mulia di akhirat membuat seorang mujahid tidak gentar. Apapun akan ia terjang selama itu untuk kejayaan Islam, kematian bukanlah halangan. Justru kematian dalam membela Islam adalah sebuah cita-cita dan harapan.

Rekan-rekan Latif benar-benar merasa kehilangan sosok yang lembut dengan sesama dan tangguh di medan juang. Asy-Syahid meninggalkan lima orang anak yang siap melanjutkan perjuangan ayahnya. Jihad akan terus berkobar hingga hari kiamat dan generasi baru akan selalu lahir untuk menyambut estafet perjuangan. Wallahu a’lam bi shawab.

Sumber : https://www.kiblat.net/2018/05/27/ubaidullah-latif-mujahid-santun-dan-penuh-kecintaan-kepada-allah/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *